Wednesday, February 18, 2009

First Oil Explored in Pangkalan Brandan Indonesia

The origins of the oil industry in Indonesia and those of what subsequently became the Royal Dutch/Shell Group are closely connected. Shell's historical links with Indonesia are strong. The discovery of commercial quantities of crude oil in Sumatra just over 100 years ago led directly to the formation of Royal-Dutch Petroleum. The Beginning Aeilko Jans Zijklert, a 20-yer-old tobacco planter in East Java, moved to Sumatra's East Coast in 1880 as soon as government declared this area open for plantations . During his travels around the island, he had come across traces of oil which on analysis proved to contain about 62 per cent paraffin (sometimes called kerosene). Delighted with his discovery, he resigned his position, acquired a licence from the local ruler, the Sultan of Langkat, and by 1884 had raised sufficient money to drill his first well. It was dry. In the following year, he tried again at Telaga Said near the village of Pangkalan Brandan in North Sumatra. This time he was sucessful. He struck oil and his new well, known as Telaga Tunggal No 1, began to produce in commercial quantities. this well is called Telaga Tunggal No. 1, located in the Telaga Said concession area. By 1890, Zijlker felt confident enough to convert his "Provisional Sumatra Petroleum Company" into something more substantial, and on June 16 the company charter of the "Royal Dutch Company for the Working of Petroleum Wells in the Dutch Indies" was executed in The Hague. When Zijklert died in December 27, 1890, his colleague De Gelder tackled the job of finding new oil fields and developing the company. The company's administrative's base was established at Pangkalan Brandan. Work began on building facilities nearby Pangkalan Susu to handle ocean shipments. By 1898, Royal Dutch has completed construction of the storage and harbour facilities that were to make Pangkalan Susu Indonesia's first oil shipping port. Meanwhile in Kalimantan in 1897 Shell Transport and Trading Company Ltd. discovered oil in Eastern Borneo (East Kalimantan) and in the same year it set up a small refinery at Balikpapan, which started in 1899.




Dawn of the 20th Century
By the turn of the century, oil had been discovered in north Sumatra, South Sumatra, Central and Eastern Java and East Kalimantan, and refineries had been established in each area. There were, at that time, 18 companies exploring for, or producing, oil in Indonesia. In the first years of the century, two of these companies emerged as leaders -- Royal Dutch in production and refining and Shell in transportation and marketing. The Shell company had been founded in 1897 by Marcus Samuel, an Englishman who also traded in shells - hence the name of the company - and spices. In 1902 Shell and Royal Dutch formed a joint company to handle shipping and marketing for both firms -- The Shell Transport and Royal Dutch Petroleum Co. Ltd. After a few years in which Royal Dutch far better than Shell, Marcus Samuel proposed to De Gelder from Royal Dutch to merge in which each company . Thus On 24 February 1907, was formed the Royal Dutch/ Shell Group of Companies that was soon known worldwide simply as "Shell". Three years later, in 1910, the Shell group absorbed another producing company in Indonesia and on 24 June 1911 bought out the last independence producer -- The Dordtsche Petroleum Mij -- and Shell's domination of the oil industry in Indonesia was complete.


Monday, September 15, 2008

Sejarah Singkat Langkat

A. Masa Pemerintahan Belanda dan Jepang Pada masa Pemerintahan Belanda, Kabupaten Langkat masih berstatus keresidenan dan kesultanan (kerajaan) dengan pimpinan pemerintahan yang disebut Residen dan berkedudukan di Binjai dengan Residennya Morry Agesten. Residen mempunyai wewenang mendampingi Sultan Langkat di bidang orang-orang asing saja sedangkan bagi orang-orang asli (pribumi) berada ditangan pemerintahan kesultanan Langkat. Kesultanan Langkat berturut-turut dijabat oleh :1. Sultan Haji Musa Almahadamsyah 1865-18922. Sultan Tengku Abdul Aziz Abdul JalikRakhmatsyah 1893-19273. Sultan Mahmud 1927-1945/46Dibawah pemerintahan Kesultanan dan Assisten Residen struktur pemerintahan disebut LUHAK dan dibawah luhak disebut Kejuruan (Raja kecil) dan Distrik, secara berjenjang disebut Penghulu Balai (Raja kecil Karo) yang berada didesa. Pemerintahan luhak dipimpin secara Pangeran, Pemerintahan Kejuruan dipimpin seorang Datuk, Pemerintahan Distrik dipimpin seorang kepala Distrik, dan untuk jabatan kepala kejuruan/Datuk harus dipegang oleh penduduk asli yang pernah menjadi raja didaerahnya. Pemerintahan Kesultanan di Langkat dibagi atas 3 (tiga) kepala Luhak
1. Luhak Langkat Hulu, yang berkedudukan diBinjai dipimpin oleh T.Pangeran Adil. Wilayahini terdiri dari 3 Kejuruan dan 2 Distrik yaitu :1.1 Kejuruan Selesai1.2 Kejuruan Bahorok1.3 Kejuruan Sei Bingai1.4 Distrik Kwala1.5 Distrik SalapianTanjung Pura dipimpin oleh Pangeran Tengku Jambak/T.Pangeran Ahmad. Wilayah ini mempunyai 2 kejuruan dan 4 distrik yaitu :2.1 Kejuruan Stabat2.2 Kejuruan Bingei2.3 Distrik Secanggang2.4 Distrik Padang Tualang2.5 Distrik Cempa2.6 Distrik Pantai Cermin3. Luhak Teluk Haru, berkedudukan di Pangkalan Berandan dipimpin oleh Pangeran Tumenggung(Tengku Djakfar). Wilayah ini terdiri dari satu kejuruan dan dua distrik.3.1 Kejuruan Besitang meliputi Langkat Tamiang dan Salahaji.3.2 Distrik Pulau Kampai3.3 Distrik Sei LepanAwal 1942, Kekuasaan pemerintah Kolonial Belanda beralih ke Pemerintahan jepang, namun sistem pemerintahan tidak mengalami perubahan, hanya sebutan Keresidenan berubah menjadi SYU, yang dipimpin oleh Syucokan. Afdeling diganti dengan Bunsyu dipimpin oleh Bunsyuco Kekuasaan Jepang ini berakhir pada saat kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada tanggal 17-08-1945.
B. Masa Kemerdekaan.Pada awal kemerdekaan Republik Indonesia, Sumatera dipimpin oleh seorang Gubernur yaitu Mr.T.M.Hasan, sedangkan Kabupaten Langkat tetap dengan status keresidenan dengan asistenresidennya atau kepala pemerintahannya dijabat oleh Tengku Amir Hamzah, yang kemudian digantioleh Adnan Nur Lubis dengan sebutan Bupati. Pada tahun 1947-1949, terjadi agresi militer Belanda I, dan II, dan Kabupaten Langkat terbagi dua, yaitu Pemerintahan Negara Sumatera Timur (NST) yang berkedudukan di Binjai dengan kepala Pemerintahannya Wan Umaruddin dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berkedudukan di Pangkalan Berandan, dipimpin oleh Tengku Ubaidulah.Berdasarkan PP No.7 Tahun 1956 secara administratif Kabupaten Langkat menjadi daerah otonom yang berhak mengatur rumah tangganyasendiri dengan kepala daerahnya (Bupati) Netap Bukit.Mengingat luas Kabupaten Langkat, maka Kabupaten Langkat dibagi menjadi 3 (tiga)kewedanan yaitu :1. Kewedanan Langkat Hulu berkedudukan di Binjai2. Kewedanan Langkat Hilir berkedudukan di Tanjung Pura3. Kewedanan Teluk Haru berkedudukan diPangkalan Berandan. Pada tahun 1963 wilayah kewedanan dihapus sedangkan tugas-tugas administrasi pemerintahan langsung dibawah Bupati serta Assiten Wedana (Camat) sebagai perangkat akhir. Pada tahun 1965-1966 jabatan Bupati Kdh. Tingkat II Langkat dipegang oleh seorang Care Taher (Pak Wongso) dan selanjutnya oleh Sutikno yang pada waktu itu sebagai Dan Dim 0202 Langkat.Dan secara berturut-turut jabatan Bupati Kdh.Tingkat II Langkat dijabat oleh:1. T. Ismail Aswhin 1967 – 19742. HM. Iscad Idris 1974 – 19793. R. Mulyadi 1979 – 19844. H. Marzuki Erman 1984 – 19895. H. Zulfirman Siregar 1989 – 19946. Drs. H. Zulkifli Harahap 1994 –19987. H.Abdul Wahab Dalimunthe, SH3-9-1998 s/d 20-2-19998. H.Syamsul Arifin, SE 1999-sekarang
Untuk melaksanakan pembangunan yang merata, Kabupaten Langkat dibagi atas 3 wilayah pembangunan.1. Wilayah Pembangunan I (Langkat Hulu) meliputia. Kecamatan Bahorok dengan 19 desab. Kecamatan Salapian dengan 22 desac. Kecamatan Kuala dengan 16 desad. Kecamatan Selesai dengan 13 desae. Kecamatan Binjai dengan 7 desaf. Kecamatan Sei Bingai 15 desa
2. Wilayah Pembangunan II (Langkat Hilir) meliputi
Kelurahanb. Kecamatan Secanggang dengan 14 Desac. Kecamatan Hinai dengan 12 desad. Kecamatan Padang Tualang dengan 18 desa e. Kecamatan Tanjung Pura dengan 15 desa dan 1 kelurahan.
3. Wilayah pembangunan III (Teluk Haru) meliputia. Kecamatan Gebang dengan 9 desab. Kecamatan Brandan Barat dengan 6 desac. Kecamatan Sei Lepan dengan 5 desa dan5 kelurahand. Kecamatan Babalan dengan 5 desa dan 3 kelurahane. Kecamatan Pangkalan Susu dengan 14 desa 2 kelurahanf. Kecamatan Besitang dengan 8 desa dan 3 kelurahan Tiap-tiap wilayah pembangunan dipimpin olehseorang pembantu Bupati.Disamping itu dalam melaksanakan otonomi daerah Kabupaten Langkat dibantu atas dinas-dinasotonom, Instansi pusat baik Departemen maupun non Departemen yang kesemuannya merupakanpembantu-pembantu Bupati. Dalam melaksanakan kebijaksanaan pemerintahan dan pembangunan.
C. Kondisi Wilayah1. GeografiDaerah Kabupaten Langkat terletak pada 3014’ dan 4013’ lintang utara, serta 93051’ dan 98045’ Bujur Timur dengan batas-batas sebagai berikut:- Sebelah Utara berbatas dengan selat Malaka dan Prop. D.I.Aceh- Sebelah Selatan berbatas dengan Dati II karo.- Sebelah Timur berbatas dengan Dati II Deli Serdang- Sebelah Barat berbatas dengan Dati D.I Aceh (Aceh Tengah)2. TopografiDaerah Tingkat II Langkat dibedkan atas 3 bagian- Pesisir Pantai dengan ketinggian 0 – 4 m diatas permukaan laut- Dataran rendah dengan ketinggian 0 – 30 m diatas permukaan laut- Dataran Tinggi dengan ketinggian 30 – 1200 m diatas permukaan laut
3. Jenis – jenis Tanah- Sepanjang pantai terdiri dari jenis tanah ALLUVIAL, yang sesuai untuk jenis tanaman pertanian pangan.- Dataran rendah dengan jenis tanah GLEI HUMUS rendah, Hydromofil kelabu dan plarosal.- Dataran tinggi jenis tanah podsolid berwarna merah kuning.4. Aliran SungaiDaerah Kab. Langkat dialiri oleh 26 sungai besar dan kecil, melalui kecamatan dan desa-desa,diantara sungai-sungai tersebut adalah : Sungai Wampu, Sungai Batang Serangan, Sungai Lepan,Sungai Besitang dan lain-lain. Secara umum sungai-sungai tersebut dimanfaatkan untukpengairan, perhubungan dan lain-lain.
5. W i s a t aDidaerah Kab. Langkat terdapat taman wisata Bukit Lawang sebagai obyek wisata, Taman BukitLawang ini terletak dikaki Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dengan udara sejuk oleh hujantrofis, dibukit Lawang ini terdapat lokasi rehabilitasi orang hutan (mawas) yang dikelola oleh WNFTaman Nasional gunung Leuser merupakan asset Nasional terdapat berbagai satwa yang dilindungi seperti: Badak Sumatera, Rusa, Kijang, Burung Kuau, siamiang juga terdapat tidak kurang dari 320 jenis burung, 176 binatang menyusui, 194 binatang melata, 52 jenis ampibi serta 3500 jenis speciestumbuh-tumbuhan serta yang paling menarik adalah bunga raflesia yang terbesar di dunia.6. Industri dan Pertambangan Daerah Kab. Langkat adalah satu-satunya di Sumatera Utara yang mempunyai tambang minyak yang dikelola oleh Pertamina dan berada di kota Pangkalan Berandan yang menghasilkan :
Disamping pertambangan minyak di Kabupaten Langkat juga terdapat Industri Gula yang dikelola oleh PTP IX Kwala madu serta banyak bahan-bahan tambang yang belum dikelola seperti Coal, Tras, Gamping Stone, Pasir Kwarsa.

Sumber:
http://www.langkatkab.go.id/se_sejarah.php

Saturday, May 24, 2008

Pangkalanbrandan 1984

Setelah bongkar-bongkar lemari akhirnya kutemukan benda vintage ini. Inilah foto jaman dulu sewaktu masih di Pangkalan Brandan depan PIKMI Simpang tiga Tangsi Polisi.
Bermain bersama saudara sepupu, Lukman Handoko, Lilik, Gatot, dan Adi.

Wednesday, May 03, 2006

sekelumit CERITA DARI LANGKAT

Kenalanlah bos semua yang ada di Blog ini...

BAIKLAH....NAMA lengkapku FAIRUZ ABADI PANGGIL SAJA "AGAM" PUTRA LANGKAT, LAMA TINGGAL DI LANGKAT SUMATRA UTARA, SEKITAR 18 TAHUN, LALU TINGGAL DI di ibukota nan kejam JAKARTA JUGA LEBIH DARI 15 TAHUN. Sekarang malah makin jauh ke negeri seberang yang dinginnya macam Brastagi.

Walaupun aku sudah jauh di negeri seberang namun kecintaan ku terhadap Langkat ini tak akan pudar. Seorang tokoh yang sempat aku kagumi juga bisa menduduki tempat nomor satu di SUMUT ini. Semoga Bupati Langkat yang sekarang yang telah menjadi BK 1 bisa membawa SUMUT kedalam keadaan yang lebih baik, makmur dan sejahtera, dan semoga saja apa yang abangda cita-citakan tercapai.

Sekilas Langkat?

Sebenarnya tak banyak yang bisa diceritakan mengenai Langkat, tapi banyak yang bisa dilihat dan dirasakan dari sebuah kabupaten yang berbatasan dengan Provinsi Aceh ini. Ada beberapa tulisan mengenai Langkat ini juga saya posting di Blog ini dan anda dapat melihatnya.

****
Aku sendiri pribadi sebenarnya SENANG TINGGAL DILANGKAT, INDAH , BANYAK TEMAN DAN MENYENANGKAN. MAKANAN JUGA LUAR BIASA ENAKNYA, KALAU INGAT RASANYA INGIN KEMBALI MENIKMATI LONTONG SAYUR ATAU SAMBAL LAUT DENGAN IKAN BAKARNYA. BANYAK ARTIS YANG LAHIR DARI KABUPATEN INI DIANTARANYA, VERI AFI, ARIEL PETERPAN, atau pesepak bola MARKUS HORISON, aku sendiri pengen jadi artis tapi kurang gantenglah hihihi...
cita2..

Kalau ada rejeki ada langkah dan keberuntungan berpihak ingin sekali rasanya suatu waktu NANTI MEMIMPIN LANGKAT,tapi rasanya masih jauh dari harapan, masih banyak yang harus dilakukan, bukan hanya sekedar mimpi, konsolidasi dan kontribusi ke daerah ini tentu yang utama. Namun begitu kata orang tua (gantungkanlah cita2 setinggi langit).

Brandan sendiri bagian sejarah dari kabuaten Langkat itu sendiri, walau Brandan penghasil minyak pertama di bumi Indonesia ini sudah ditinggalkan oleh pengelola minyak PERTAMINA beberapa tahun yang lalu, tapi geliat ekonomi Brandan tetap berjalan seperti biasa, bahkan yang aku dengar RENCANANYA AKAN DIBANGUN PELABUHAN INTERNASIONAL DENGAN FASILITAS PENYEBRANGAN LAUT, SEMOGA SAJA hal ini bisa TEREALISASI DALAM WAKTU DEKAT INI. Amien

Harapan kedepan

Harapanku sih Langkat semakin maju, syukur saat ini mantan bupati Langkat ini telah menjadi orang nomer satu di Sumatera Utara, namun begitu harapan kami juga beliau tidak lupa akan daerah Langkat khususnya dan daerah tingkat dua lain pada umumnya.

Tuesday, May 02, 2006

HISTORY OF LANGKAT 3


1927 - 1948 H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l 'Aziz, Sultan of Langkat. b. at Kota Dalam, 19th July 1893, son of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan 'Abdu'l 'Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibni al-Marhum Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mu'azzam Shah, Sultan of Langkat, by his first wife, H.H. Tengku Alautiah binti Raja Muda Tengku Sulaiman, Tengku Mahasuri, daughter of Tengku Sulaiman ibni al-Marhum Sultan Panglima Mangedar Otteman, Raja Muda and Regent of Deli, educ. Succeeded on the death of his father, 1st July 1927. Installed at the Istana Dar ul-Aman, Tanjung Pura, 24th October 1927. Attended the Golden Jubilee Celebrations of Queen Wilhelmina, in Amsterdam, 1938. Rcvd: Knt. of the Order of the Netherlands Lion (21.10.1935), GC of the Order of the Dragon of Annam (17.2.1939), and Cdr. of the Order of Leopold II of Belgium (29.3.1939). m. (first) at Istana Dar ul-Aman, Tanjung Pura, 1917, H.H. Tengku Raudah binti al-Marhum Tuanku Al-Haji Muhammad Shah, Tengku Permaisuri (b. 8th August 1892; d. 9th March 1971), installed at Tanjug Pura, as Tengku Permaisuri 2nd September 1927, eldest daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Al-Haji Muhammad Shah ibni al-Marhum Tuanku Al-Haji 'Abdu'llah Ni'matu'llah Shah, Yang di-Pertuan of Kualuh and Leidong, by his wife, Tengku Zubaida binti Tengku Al-Haji Ismail, Tengku Ampuan, daughter of Tengku Al-Haji Ismail ibni al-Marhum Sultan Usman al-Sani Perkasa 'Alam Shah, Tengku Pangeran Nara, of Bedagai, by whom he had issue, 12 children. m. (second) Inche' Sri Dharma [Seridam]. m. (third) Inche' Asmah. He d. at Manggalaan, Medan, 23rd April 1948 (bur. Tengku Pura), having had issue, four sons and ten daughters:
  • 1) Tengku Musa bin Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah, Raja Muda. b. at Istana Dar ul-Aman, Tanjung Pura, 22nd September 1924 (s/o Tengku Raudah). He d.v.p. (disappeared) August/September 1946.
  • 2) Tengku Atha'ar ibni al-Marhum Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah, Head of the Royal House of Langkat (s/o Tengku Raudah) - see below.
  • 3) Tengku Yahya ibni al-Marhum Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah (s/o Tengku Raudah).
  • 4) Tengku Mustafa Kamal Pasha ibni al-Marhum Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah, Head of the Royal House of Langkat (s/o Tengku Raudah) - see below.
  • 1) Tengku Kamaliah binti al-Marhum Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah (d/o Tengku Raudah). m. at Istana Dar ul-Aman, Tanjung Pura, 21st March 1938, Tengku Amir Hamzah bin Tengku Muhammad Adil, Tengku Pangeran Indraputra (b. at Tanjung Pura, 28th February 1911; k. 20th March 1946), younger son of Tengku Muhammad Adil Rahmad Shah bin Tengku Hamzah al-Haj, Pangeran Kusuma Perwira, sometime DH of Binjai and Wakil Sultan at Luhak Langkat Bengkulu. She had issue, one daughter - see above.
  • 2) Tengku Atfah binti al-Marhum Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah (d/o Tengku Raudah). m. Tengku Ramli.
  • 3) Tengku Kalsum binti al-Marhum Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah (d/o Tengku Raudah). Attended the Golden Jubilee Celebrations of Queen Wilhelmina, in Amsterdam, 1938. m. Hasan Darus.
  • 4) Tengku Latifa Hanum binti al-Marhum Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah (d/o Tengku Raudah). Attended the Golden Jubilee Celebrations of Queen Wilhelmina, in Amsterdam, 1938. m. Tengku Razali bin Tengku Hafas, fourth son of Tengku Hafas bin Tengku Ismail al-Haj, Tengku Pangeran, sometime Wakil of Bedagai and Pangeran of Langkat Hilir, by his wife, Tengku Uan Mahanun, daughter of Tuanku Sutan Bidar Alam Shah III, Raja of Bila. She has issue, one son and eight daughters - see Indonesia (Deli).
  • 5) Tengku Bainah binti al-Marhum Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah (d/o Tengku Raudah). m. Tengku Sulaiman.
  • 6) Tengku Ajerun binti al-Marhum Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah (d/o Tengku Raudah). m. Tengku Shahrul.
  • 7) Tengku Mahseran binti al-Marhum Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah (d/o Tengku Raudah). m. Yopie Endoh.
  • 8) Tengku Nur Jahan binti al-Marhum Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah (d/o Tengku Raudah). m. Major-General Barkah Tirtadijaya, Ambassador to Egypt 1984.
  • 9) Tengku Zahariah binti al-Marhum Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah (d/o Inche' Sri Dharma).
  • 10) Tengku Basrah binti al-Marhum Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah (d/o Inche' Asmah).
  • A daughter. m. before 1938, as his second wife, Tengku Malik ul-Bahar bin Tengku Muhammad Adil Rahmad Shah (b. before 1910), son of Tengku Muhammad Adil Rahmad Shah bin Tengku Hamzah al-Haj, Pangeran Kusuma Perwira, sometime DH of Binjai and Wakil Sultan at Luhak Langkat Bengkulu - see above.

[1948 - 1990] Tengku Atha'ar ibni al-Marhum Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah, Head of the Royal House of Langkat. b. at Istana Dar ul-Aman, Tanjung Pura, 14th November 1929, second son of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l 'Aziz, Sultan of Langkat, by his first wife, H.H. Tengku Raudah binti al-Marhum Tuanku Al-Haji Muhammad Shah, Tengku Permaisuri. Succeeded as Head of the Royal House of Langkat, on the death of his father, 23rd April 1948. m. Tengku Radliya binti Tengku Mansur Shah, eldest daughter of Tengku Mansur Shah ibni al-Marhum Sultan Muhammad Shah, Tengku Besar, sometime Regent of Kualuh, by his wife, Tengku Darjat, eldest daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah II ibni al-Marhum Sultan Ahmad Shah, Sultan and Yang di-Pertuan of Asahan. He d. (s.p?) 14th June 1990.

[1990 - 1999] Tengku Mustafa Kamal Pasha ibni al-Marhum Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah, Head of the Royal House of Langkat. b. at Istana Dar ul-Aman, Tanjung Pura, 27th August 1935, youngest son of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l 'Aziz, Sultan of Langkat, by his first wife, H.H. Tengku Raudah binti al-Marhum Tuanku Al-Haji Muhammad Shah, Tengku Permaisuri. Succeeded as Head of the Royal House of Langkat, on the death of his elder brother, 14th June 1990. m. Tengku Zulfa binti Tengku Harison, only daughter of Tengku Harison, of Bedagai, Deli, by his wife, Tengku Maimuna binti al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah, daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan 'Abdu'l 'Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibni al-Marhum Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mu'azzam Shah, Sultan of Langkat. He had issue, a son:
  • 1) Tengku Azihar bin Tengku Mustafa Kamal Pasha.

[1999 - 2001] Tengku Dr Herman Shah bin Tengku Kamil, Head of the Royal House of Langkat, third son of Tengku Kamil ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah, by his wife, Tengku Arfah binti al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah, daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah II ibni al-Marhum Tengku Muhammad 'Adil, Sultan and Yang di-Pertuan of Asahan. Recognised by the thirteen chiefs of Langkat as Sultan designate 22nd May 1999, but never confirmed by the government of Indonesia or formally installed. He d. 2001.
Copyright© Christopher Buyers
'courtesy Copyright© Christopher Buyers
2001 - 2003 H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Iskandar Hilali 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah al-Haj ibnu al-Marhum Tengku Murad Aziz, Sultan of Langkat. b. at Medan, 29th September 1952, only son of Tengku Murad Aziz ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah, by his wife, Hajjah Tengku Maheran binti al-Marhum Sultan 'Alam Shah Otteman al-Sani Perkasa 'Alam, eldest daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan 'Alam Shah Otteman II al-Sani Perkasa 'Alam ibni al-Marhum Sultan 'Amal ud-din al-Sani Perkasa 'Alam Shah, Sultan of Deli. Succeeded his first cousin as Head of the Royal House of Langkat, 2001. Selected by the thirteen hereditary chiefs and nobles of the principality as Sultan of Langkat, 29th May 2002. Installed at Tanjung Pura, with the title of Sri Paduka Tuanku Sultan Iskandar Hilali 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah al-Haj, 27th October 2002. m. Hajjah Dr. Mirla Safrina. He d. suddenly, in hospital, at Medan, 21st May 2003 (bur. Azizi Mosque, Tanjung Pura).
Copyright© Christopher Buyers
Copyright© Christopher Buyers
2003 H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Azwar 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah al-Haj ibni al-Marhum Tengku Maimun, Sultan of Langkat. b. at Medan, 21st January 1951, as Tengku Azwar Aziz al-Haj, youngest son of Tengku Maimun [Maimoen] ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah, by his wife, Tengku Nomel Badr ul-Buhaja [Badroel Boehaja] binti Tengku Hafas, educ. Head of the Dept. of Industry & Trade, Govt. of North Sumatra. Recognised by the thirteen hereditary chiefs and nobles of the principality as Sultan of Langkat, 21st May 2003. Installed on the same day, at the Balairung, Istana Agong Kota Ma'amun, Medan, with the title of Sri Paduka Tuanku Sultan Azwar 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah al-Haj. m. Hajjah Marina Indera (b. at Medan, 1st March 1958). He has issue, one son and one daughter:
  • 1) Tengku Arifanda bin Tuanku Sultan Azwar 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah.
  • 1) Tengku Anissa Feloini binti Tuanku Sultan Azwar 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah.
Copyright© Christopher Buyers
END.
SOURCES by Christopher Buyers
http://www.4dw.net/royalark/Indonesia/langkat.htm

HOSTORY OF LANGKAT 2

1840 - 1893 H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mahadiah Mu'azzam Shah ibni al-Marhum Sultan Ahmad, Sultan of Langkat. b. at Tanjung Pura, 1807, second son of Raja Ahmad ibni al-Marhum Raja Indra Bongsu, Sultan of Langkat, by his wife, Tengku Kanah, educ. privately. Succeeded on the death of his father, as Raja of Langkat, 1840. Styled Pangeran Mangku Negara Raja Muda. Forced to accept Acehnese sovereignty in 1854, then raised to the title of Pangeran Indra di-Raja Amir, Pahlawan Sultan Aceh. Entered into a contract with the government of the NEI, in which he was recognised as independent of both Aceh and Siak, 26th October 1869. Assumed the title of Sultan and installed at Tanjung Pura, with the style of Sri Paduka Tuanku Sultan Musa al-Khalid al-Mahadiah Mu'azzam Shah, 1887. Increased his wealth and authority very greatly, by granting land concessions to the Dutch and other European owned planting companies. Abdicated in favour of his second son, 1892. m. (first) at Tanjung Pura, Inche' Syandu, daughter of Orang-kaya Datuk Setia di-Raja, of Hamparan Perak. m. (second) Hajjah Mariam binti Imam Sutan. m. (third) at Tanjung Pura, H.H. Tengku Meshaurah [Maslurah] binti Tengku Besar Desan, Tengku Permaisuri, daughter of Tengku Besar Desan, of Langkat. He d. at Tanjung Pura, May 1897, having had issue, sven sons and two daughters:
  • 1) Tengku Sulong Muhammad Sharif ibni al-Marhum Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mu'azzam Shah, Tengku Mangkubumi (s/o Inche' Syandu). Pangeran of Langkat Hulu. m. before 1885, a daughter of Datuk Haji Mat Shah, Datuk Panglima Perang, of Sungei Bangka, in Siak state. He had issue:
  • 2) Tengku Kelana ibni al-Marhum Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mu'azzam Shah (s/o Inche' Syandu). He had issue, a son:
    • a) Tengku Haji Idris bin Tengku Kelana, Tengki Sri Utama di-Raja. m. Tengku Salama binti al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah, daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan 'Abdu'l 'Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibni al-Marhum Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mu'azzam Shah, Sultan of Langkat, by his wife, Inche' Pediwi. He had issue, four sons and three daughters:
      • i) Tengku Mustafa bin Tengku Haji Idris.
      • ii) Tengku Fazil bin Tengku Haji Idris.
      • iii) Tengku Zainal Shaukat bin Tengku Haji Idris.
      • iv) Tengku Bahriun bin Tengku Haji Idris.
      • i) Tengku Asiah binti Tengku Haji Idris.
      • ii) Tengku Akmal binti Tengku Haji Idris.
      • iii) Tengku Halaida Romana binti Tengku Haji Idris.
  • 3) Tengku 'Abdu'l 'Aziz, who succeeded as H.H. Sultan 'Abdu'l 'Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibni al-Marhum Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mu'azzam Shah, Sultan of Langkat (s/o Tengku Meshaurah) - see below.
  • 4) Tengku Hamzah al-Haj ibni al-Marhum Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mu'azzam Shah, Tengku Indera di-Raja (s/o Hajjah Mariam). Pangeran of Langkat Hilir. He had issue, three sons and three daughters:
    • a) Tengku Muhammad Adil Rahmad Shah bin Tengku Hamzah al-Haj, Pangeran Kusuma Perwira. DH of Binjai 1888-1928, and Wakil Sultan at Luhak Langkat Bengkulu. Rcvd: Knt. of the Order of Orange-Nassau (13.10.1924). m. (first) Tengku …, a Royal wife. m. (second) Tengku Riom. m. (third) Tengku Mahjiwa. He d. at Binjai, 21st June 1928, having had issue, nine sons and three daughters:
      • i) Tengku 'Abdu'l Hamid bin Tengku Muhammad Adil. m. Tengku Sitti.
      • ii) Tengku Husni Ibrahim bin Tengku Muhammad Adil. m. (first) Tengku Bon. m. (second) Tengku Khadija.
      • iii) Tengku Sulaiman bin Tengku Muhammad Adil. m. Inche' Bangun.
      • iv) Tengku Malik ul-Bahar bin Tengku Muhammad Adil Rahmad Shah. b. before 1910. m. (first) Hermina, née Den Bare, a Dutch lady. m. (second) a daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l 'Aziz, Sultan of Langkat.
      • v) Dr. Tengku 'Abdu'llah Hod bin Tengku Muhammad Adil. b. before 1911 (full-brother of Amir Hamzah), educ. Amsterdam (MD). m. at Amsterdam, Henriette (b. at Amsterdam, 1910; d. 1991), née Snoeck. He d. 1985, having had issue, an only son:
        • (1) Tengku Dr. Haji Nathan Mahmud bin Tengku 'Abdu'llah Hod. b. at Haarlem, the Netherlands, 1935, educ. Amsterdam (Ph.D., SH, MBA). Dir. Osprey Maritime Ltd. to 2001. m. Hajjah Radin Ayu Sri Siddharti (b. 1934), daughter of Radin Ramijan Viryasuputra [Ramidjan Wirjosaputro], of the Royal House of Mangkunegaran. He has issue, one son and two daughters:
          • (a) Tengku Haji 'Abdu'llah Iskandar Rahmad Shah bin Tengku Nathan Mahmud [Iskandar Machmud]. b. at Bandung, Java, 6th September 1962, educ. (MBA). m. Istingdiah Sugujanto. He has issue, one son and two daughters:
            • (i) Omar Alessandro ar-Rahman Aziz bin Tengku Haji 'Abdu'llah Iskandar Rahmad Shah [Omhar Machmud]. b. 19th September 1998.
            • (i) Aanadia Sabrina binti Tengku Haji 'Abdu'llah Iskandar Rahmad Shah [Aanadia Machmud]. b. 18th January 1995.
            • (ii) Skana Miaziza Kharima binti Tengku Haji 'Abdu'llah Iskandar Rahmad Shah [Skana Machmud]. b. 18th August 2001.
          • (b) Tengku Sandra Fauzia binti Tengku Nathan Mahmud. b. at Padju, 21st March 1960, educ. the Netherlands (SH). m. Haji Muhammad Davy Odang, SH. She has issue, four sons:
            • (i) Davy Muhammad Fauzy Odang. b. 18th May 1987.
            • (ii) Duhita Karim Odang. b. 21sr March 1990.
            • (iii) Othman Nathan Aziz Odang. b. 26th May 1993.
            • (iv) Muhammad Abrar 'Abdu'l Rahman Odang. b. 14th October 1995.
          • (c) Tengku Hajjah Dr. Mira Alida binti Tengku Nathan Mahmud. b. at Surabaya, Java, 2nd October 1961. m. Haji Dr. Medanto Budijo Kunto. She has issue, one son and two daughters:
            • (i) Kautzar Azlan Shah Kunto. b. 1st January 1989.
            • (i) Adinda Rachmania Dinanti Kunto. b. 24th May 1987.
            • (ii) Jeumpa Fathya Kinanti Kunto. b. 16th March 1998.
      • vi) Tengku Amir ud-din bin Tengku Muhammad Adil. m. Tengku Najah.
      • vii) Tengku Amir Hamzah bin Tengku Muhammad Adil, Tengku Indraputra. b. at Tanjung Pura, 28th February 1911 (full-brother of 'Abdu'llah Hod), educ. Langkatsche Sch., Tanjung Pura, MULO, Medan and AMS, Solo. Sometime Pangeran of Langkat Hulu, Republican Bupati of the Regency of Langkat 1945-1946. The foremost Malay writer and poet of his generation. m. at Istana Dar ul-Aman, Tanjung Pura, 21st March 1938, Tengku Kamaliah binti al-Marhum Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah, eldest daughter of his uncle, H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l 'Aziz, Sultan of Langkat, by his wife, H.H. Tengku Raudah binti al-Marhum Tuanku Al-Haji Muhammad Shah, Tengku Permaisuri, eldest daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Al-Haji Muhammad Shah ibni al-Marhum Tuanku Al-Haji 'Abdu'llah Ni'matu'llah Shah, Yang di-Pertuan of Kualuh and Leidong. He was k. (executed by the rebels during the 'Social Revolution'), 20th March 1946, having had issue, an only daughter:
        • (1) Tengku Tahura binti Tengku Amir Hamzah. b. 29th July 1939 (d/o Tengku Kamaliah).
      • viii) Tengku 'Ali Nafiah bin Tengku Muhammad Adil.
      • ix) Tengku Amal ud-din bin Tengku Muhammad Adil.
      • i) Tengku Sari Banum binti Tengku Muhammad Adil. m. Tengku Haji Dahlan.
      • ii) Tengku Idut binti Tengku Muhammad Adil. m. at Binjai, 1st July 1929, TTengku Muhammad Daud ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz, sixth son of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan 'Abdu'l 'Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibni al-Marhum Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mu'azzam Shah, Sultan of Langkat, by his fourth wife, Aja Loyah - see below.
      • iii) Tengku Maheran binti Tengku Muhammad Adil. m. Jack Tobing.
    • b) Tengku Muhammad Yasin bin Tengku Hamzah al-Haj, Tengku Pangeran Setia Indra. b. at Tanjung Pura, 1882. Pangeran of Langkat Hilir 1917-1930, and of Langkat Hulu 1930-1934, Vice-Presdt. Langkat State Cncl. in 1934. Rcvd: Knt. of the Order of Orang-Nassau (1937), and the Great Golden Star for Loyalty and Merit. m. (first) Tengku Maharani. m. (second) Tengku Rahimah. m. (third) Tengku Fatimah Zahra. He d. at Tanjung Pura, 7th May 1957, having had issue, ten children, including two sons and four daughters by Tengku Fatimah Zahra:
      • i) Tengku Burhan ud-din bin Tengku Muhammad Yasin (s/o Tengku Fatimah Zahra).
      • ii) Tengku Mazlan bin Tengku Muhammad Yasin (s/o Tengku Fatimah Zahra). m. Tengku Milfah binti Tengku Kamil, only daughter of Tengku Kamil ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah, sometime Pangeran of Binjai, by his wife, Tengku Arfah binti al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah, daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah II ibni al-Marhum Tengku Muhammad 'Adil, Sultan and Yang di-Pertuan of Asahan. He had issue, three sons and two daughters:
        • (1) Tengku Erwin bin Tengku Mazlan.
        • (2) Tengku Hamzah bin Tengku Mazlan.
        • (3) Tengku Irwan bin Tengku Mazlan.
        • (1) Tengku Andromeda binti Tengku Mazlan. m. Haji 'Abdu'l Hamid Arshad [Hamid Arsyad], Datuk Amar di-Raja, Engineer, Sec. to the Sultan of Langkat 2002.
        • (2) Tengku Carmen Silva binti Tengku Mazlan.
      • i) Tengku Zaitun binti Tengku Muhammad Yasin (d/o Tengku Fatimah Zahra). m. Tengku Muhammad Nur ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah, Tengku Bendahara, sometime Cdr. Langkat Barisan Corps and Minister for Finance, son of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan 'Abdu'l 'Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibni al-Marhum Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mu'azzam Shah, Sultan of Langkat, by his wife, H.H. Tengku Fatimah Sham binti Tengku Putih 'Abdu'l Kadir, Tengku Permaisuri, daughter of Tengku Putih 'Abdu'l Kadir bin Sutan Aman, of Serdang. She had issue, three sons and four daughters - see below.
      • ii) Tengku Nasbah binti Tengku Muhammad Yasin (d/o Tengku Fatimah Zahra).
      • iii) Tengku Zainab binti Tengku Muhammad Yasin. b. 1921 (d/o Tengku Fatimah Zahra).
      • iv) Tengku Zohoriah Haneth binti Tengku Muhammad Yasin. b. 1922 (d/o Tengku Fatimah Zahra).
    • c) Tengku Muhammad Yunus bin Tengku Hamzah al-Haj. m. Inche' Hartini.
    • a) Tengku Chantik binti Tengku Hamzah al-Haj. m. Tengku Item Gedang.
    • b) Tengku Tambun binti Tengku Hamzah al-Haj. m. Said Sagaf [Sayyid … Alsagoff?).
    • c) Tengku Gambut binti Tengku Hamzah al-Haj. m. Tengku Zainal Abidin.
  • 5) Tengku 'Umar ibni al-Marhum Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mu'azzam Shah (s/o Inche' Syandu). Sometime Pangeran of Pulau Kampai.
  • 6) Tengku 'Abdu'llah ibni al-Marhum Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mu'azzam Shah (s/o Inche' Syandu).
  • 7) Tengku 'Abdu'l Majid ibni al-Marhum Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mu'azzam Shah (s/o Inche' Syandu).
  • 1) Tengku Ubang Maimuna binti al-Marhum Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mu'azzam Shah (d/o Hajjah Mariam). m. ca. 1859, Tuanku Hashim bin Tuanku 'Abdu'l-Kadir Shah, Abangta Muda (b. 1840; d. at Padang Tiji, VII Mukims, Aceh, 22nd January 1897, bur. Masjid Tiji, XXII Mukims), sometime Prince Regent of Aceh, second son of Tuanku 'Abdu'l-Kadir bin Tuanku Chut Zainal Abidin. She had issue, one son - see Indonesia (Aceh).
  • 2) Tengku Putri Aisha [Intan] binti al-Marhum Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mu'azzam Shah (d/o Tengku Meshaurah). m. Tengku Syed Embong bin Tengku Syed Khalid, Tengku Pangeran Jaya Setia, son of Tengku Syed Khalid bin Tengku Syed Mohammed of Siak. She had issue - see Indonesia (Siak).
1893 - 1927 H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan 'Abdu'l 'Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibni al-Marhum Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mu'azzam Shah, Sultan of Langkat. b. at Tanjung Pura, 19th May 1875, third son of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mahadiah Mu'azzam Shah ibni al-Marhum Sultan Ahmad, Sultan of Langkat, by his third wife, H.H. Tengku Meshaurah[Maslurah] binti Tengku Besar Desan, Tengku Permaisuri, daughter of Tengku Besar Desan, of Langkat, educ. privately. Proclaimed on the abdication of his father, 1893. Installed at Tanjung Pura, 23rd May 1894. Rcvd: Cdr. of the Order of Orange-Nassau (31.8.1920), Knt. of the Order of the Netherlands Lion, and Cdr. 2nd class of the Order of Henry the Lion of Brunswick (1910). m. (first) 1892, H.H. Tengku Alautiah binti Raja Muda Tengku Sulaiman, Tengku Mahasuri (d. at Tanjung Pura, 31st October 1897), installed at Tanjung Pura, as Tengku Mahasuri 23rd May 1894, daughter of Tengku Sulaiman ibni al-Marhum Sultan Panglima Mangedar Otteman, Raja Muda and Regent of Deli. m. (second) January 1898, H.H. Tengku Aisha binti al-Marhum Sultan Zainal Rashid Mu'adzam Shah, Tengku Permaisuri (d.s.p.11th January 1904), installed at Tanjung Pura, as Tengku Permaisuri January 1898, daughter of H.H. Sultan Zainal Rashid Mu'adzam Shah II ibni al-Marhum Sultan Ahmad Taj ud-din Mukarram Shah, Sultan of Kedah, by his wife, Tengku Miriam binti Tengku Zia ud-din, eldest daughter of Tunku Zia ud-din ibni al-Marhum Sultan Zain al-Rashid al-Mu'azzam Shah, sometime Viceroy of Selangor. m. (third) 1905, H.H. Tengku Fatimah Sham binti Tengku Putih 'Abdu'l Kadir, Tengku Permaisuri (cre. 1905) (b. 1890; d. 23rd May 1919), daughter of Tengku Putih 'Abdu'l Kadir bin Sutan Aman, of Serdang, by his wife, Tengku Ngah Saleha binti Tengku Sutan Siddiq, daughter of Sutan Siddiq ibni al-Marhum Sultan Thaf Sinar Bashar Shah, Tengku Temenggong, sometime Wakil at Perbaungan. m. (fourth) Aja Loyah. m. (fifth) Tengku Putri. m. (sixth) Tengku Ainum. m. (seventh) at Klang, Selangor, December 1919, H.H. Tengku Putri Zahara binti al-Marhum Sultan 'Ala ud-din Sulaiman Shah, Tengku Permaisuri (b. 18th December 1899; d. 18th January 1982), installed at Tanjung Pura, as Tengku Permaisuri December 1919, daughter of Colonel H.H. Sultan 'Ala ud-din Suleiman Shah ibni al-Marhum Raja Muda Musa, Sultan of Selangor, GCMG, KCVO, by his first wife, H.H. Tengku Maharum binti Tengku Zia ud-din, Tengku Ampuan, daughter of Tengku Zia ud-din ibni al-Marhum Sultan Zain al-Rashid al-Mu'azzam Shah [Tunku Kudin], Viceroy of Selangor. m. (eighth) Inche' Pediwi. m. (ninth) Inche' Sanggit. He d. at Tanjung Pura, 1st July 1927, having had issue, including, thirteen sons and ten daughters:
  • 1) Tengku Mahmud, who succeeded as H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l 'Aziz, Sultan of Langkat (s/o Tengku Alautiah) - see below.
  • 2) Tengku Kamil ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz (s/o Tengku Fatimah Sham). Temp. Pangeran of Langkat Hulu in 1934, later Pangeran of Binjai. m. 30th July 1933, Tengku Arfah binti al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah (d. 1978), daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah II ibni al-Marhum Tengku Muhammad 'Adil, Sultan and Yang di-Pertuan of Asahan, by his fifth wife, Tengku Zahara, youngest daughter of H.H. Raja Muhammad Yusuf al-Mahdi bin Raja 'Ali, Yang di-Pertuan Muda of Riau. He had issue, five sons and one daughter:
    • a) Tengku Nasir ud-din bin Tengku Kamil. m. Tengku Nazlia Hanim binti Tengku Muhammad 'Ali, daughter of his maternal uncle, Tengku Muhammad 'Ali ibni al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah, of Asahan, by his wife, Tengku Nur Aini binti Tengku Salim. He had issue, a daughter:
      • i) Tengku Mazwin binti Tengku Nasir ud-din. m. Tengku Taha ul-Rizal bin Tengku Zia ud-din, second son of Tengku Zia ud-din ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz [Tengku Kuding], by his first wife, Inche' Lusi, née Kepel - see below.
    • b) Tengku Taj ud-din bin Tengku Kamil.
    • c) Tengku Dr Herman Shah bin Tengku Kamil, Head of the Royal House of Langkat - see below.
    • d) Tengku Aswan bin Tengku Kamil.
    • e) Tengku Zulkifli bin Tengku Kamil.
    • a) Tengku Milfah binti Tengku Kamil. m. Tengku Mazlan bin Tengku Muhammad Yasin, second son of Tengku Muhammad Yasin bin Tengku Hamzah al-Haj. She had issue, three sons and two daughters - see above.
  • 3) Tengku Ahmad ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz, Tengku Pangeran (s/o Tengku Aisha). m. at the Istana Dar ul-Aman, Tanjung Pura, 1920, Tengku Maharum binti Tunku Zainal Rashid, daughter of Tunku Zainal-Rashid ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Hamid Halim Shah [Tunku Da'i], of Kedah, in Malaya, by his wife, Tengku Nyan binti al-Marhum Tunku Bahadur Shah, daughter of Tunku Bahadur Shah bin Tengku Zia ud-din. He had issue:
    • a) Tengku Mansur bin Tengku Ahmad.
  • 4) Tengku Muhammad Nur ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz, Tengku Bendahara (s/o Tengku Fatimah Sham). Cdr. Langkat Barisan Corps, Minister for Finance in 1934. m. Tengku Zaitun binti Tengku Muhammad Yasin, daughter of Tengku Muhammad Yasin bin Tengku Hamzah al-Haj. He had issue, three sons and four daughters:
    • a) Tengku Muhammad Hisham ud-din bin Tengku Muhammad Nur.
    • b) Tengku Muhammad Fakhri bin Tengku Muhammad Nur.
    • c) Tengku 'Abdu'l Kamalzat bin Tengku Muhammad Nur.
    • a) Tengku Nur Aziah binti Tengku Muhammad Nur.
    • b) Tengku Fauzia binti Tengku Muhammad Nur.
    • c) Tengku Khairat un 'Azhar binti Tengku Muhammad Nur Aziz [H.H. the Tengku Ampuan of Deli]. b. 6th January 1938. m. (first) a Javanese gentleman, by whom she had issue, four sons and two daughters. m. (second) at the Istana Agong Kota Ma'amun, Medan, 31st January 1990, as his second wife, H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan 'Azmi Perkasa 'Alam Shah Al-Haj ibni al-Marhum Sultan Otteman al-Sani Perkasa 'Alam Shah, Sultan of Deli (b. at Medan, 24th April 1936; d. from heart failure, at the Istana Agong Kota Ma'amun, Medan, 4th May 1998), eldest son of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Otteman II Perkasa 'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan 'Amal ud-din al-Sani Perkasa 'Alam Shah, Sultan of Deli, by his second wife, Inche' Mariam binti 'Abdu'llah - see Indonesia (Deli)
    • d) Tengku Farial binti Tengku Muhammad Nur.
  • 5) Tengku Haji Mukhtar ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz (s/o Tengku Fatimah Sham). m. Inche' Akmal. He had issue, two sons and three daughters:
    • a) Tengku 'Abdu'l Aziz bin Tengku Haji Mukhtar.
    • b) Tengku Ahmad Aziz bin Tengku Haji Mukhtar.
    • a) Tengku Aziza binti Tengku Haji Mukhtar.
    • b) Tengku Amina binti Tengku Haji Mukhtar.
    • c) Tengku Asia binti Tengku Haji Mukhtar.
  • 6) Tengku Muhammad Daud ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz (s/o Aja Loyah). m. at Binjai, 1st July 1929, Tengku Idut binti Tengku Muhammad Adil, second daughter of Tengku Muhammad Adil Rahmad Shah bin Tengku Hamzah al-Haj, Pangeran Kusuma Perwira, sometime DH of Binjai and Wakil Sultan at Luhak Langkat Bengkulu.
  • 7) Tengku Murad ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz (s/o Tengku Fatimah Sham). m. at the Istana Agong Kota Ma'amun, Medan, 25th November 1948 (or 17th October 1948), Tengku Hajjah Maheran binti al-Marhum Sultan Otteman al-Sani Perkasa 'Alam Shah, eldest daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Otteman II Perkasa 'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan 'Amal ud-din al-Sani Perkasa 'Alam Shah, Sultan of Deli, by his first wife, Raja Amina binti Raja Chulan, Tengku Puan Indra Raja, daughter of Raja Sir Chulan ibni al-Marhum Paduka Sri Sultan 'Abdu'llah Muhammad Shah Habibu'llah, KBE, CMG, Raja di-Hiler, of Perak. He had issue, one son and four daughters:
    • a) H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Iskandar Hilali 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibni al-Marhum Tengku Murad Aziz, Sultan of Langkat (s/o Hajjah Tengku Maheran) - see below.
    • a) Tengku Beizura binti Tengku Murad Aziz.
    • b) Tengku Muchaira binti Tengku Murad Aziz.
    • c) Tengku Dina binti Tengku Murad Aziz.
    • d) Tengku Murashida binti Tengku Murad Aziz.
  • 8) Tengku Harun ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz (s/o Tengku Fatimah Sham). m. Tengku Nur Fashrah.
  • 9) Tengku Ibrahim ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz, Maharaja Sungei Binjai. m. Tengku Salmah binti ibni al-Marhum Sultan Muhammad Shah, youngest daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Al-Haji Muhammad Shah ibni al-Marhum Tuanku Al-Haji 'Abdu'llah Ni'matu'llah Shah, Raja and Yang di-Pertuan of Kualuh and Leidong.
  • 10) Tengku Maimun [Maimoen] ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz (s/o Tengku Fatimah Sham). m. Tengku Nomel Badr ul-Buhaja [Badroel Boehaja] binti Tengku Hafas, elder daughter of Tengku Hafas bin Tengku Ismail al-Haj, Tengku Pangeran, sometime Wakil of Bedagai and Pangeran of Langkat Hilir, by his wife, Tengku Uan Mahanun, daughter of Tuanku Sutan Bidar Alam Shah III, Raja of Bila. He has issue, four sons and three daughters:
    • a) Tengku Muhammad Airad bin Tengku Maimun.
    • b) Tengku Kamajaya bin Tengku Maimun.
    • c) Tengku Alwin bin Tengku Maimun.
    • d) Tengku Azwar bin Tengku Maimun, who succeeded as H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Azwar 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah al-Haj ibni al-Marhum Tengku Maimun, Sultan of Langkat - see below.
    • a) Tengku Yunita binti Tengku Maimun.
    • b) Tengku Hermina binti Tengku Maimun.
    • c) Tengku Laura binti Tengku Maimun.
  • 11) Tengku Putra ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz (s/o Tengku Putri Zahara). m. Tengku Hazariah. He has issue, four daughters:
    • a) Tengku Petronella binti Tengku Putra.
    • b) Tengku Soraya binti Tengku Putra.
    • c) Tengku Sri Kamala Devi binti Tengku Putra.
    • d) Tengku Sandra Norliza binti Tengku Putra.
  • 12) Tengku Zia ud-din ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz [Tengku Kuding] (s/o Tengku Putri Zahara). m. (first) Inche' Lusi, née Kepel. m. (second) Siti Hawa Ningsih. He has issue, seven sons and five daughters:
    • a) Tengku Zainal Azali bin Tengku Zia ud-din (s/o Inche' Lusi).
    • b) Tengku Taha ul-Rizal bin Tengku Zia ud-din (s/o Inche' Lusi). m. Tengku Mazwin binti Tengku Nasir ud-din, daughter of Tengku Nasir ud-din bin Tengku Kamil.
    • c) Tengku Azizan bin Tengku Zia ud-din (s/o Inche' Lusi).
    • d) Tengku Adi bin Tengku Zia ud-din (s/o Siti Hawa).
    • e) Tengku Darma bin Tengku Zia ud-din (s/o Siti Hawa).
    • f) Tengku Priyatna bin Tengku Zia ud-din (s/o Siti Hawa).
    • g) Tengku Kelana Asmara Jaya bin Tengku Zia ud-din (s/o Siti Hawa).
    • a) Tengku Cornelia binti Tengku Zia ud-din (s/o Inche' Lusi).
    • b) Tengku Bariah binti Tengku Zia ud-din (s/o Inche' Lusi).
    • c) Tengku Shavita binti Tengku Zia ud-din (s/o Inche' Lusi).
    • d) Tengku Sri Susanti binti Tengku Zia ud-din (s/o Siti Hawa).
    • e) Tengku Sri Astuti binti Tengku Zia ud-din (s/o Siti Hawa).
  • 13) Tengku 'Abdu'r Rahim ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz (s/o Inche' Pediwi).
  • 1) Tengku Lailan Shahfinah binti al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz, Tenku Mas. b. 24th October 1903 (d/o Tengku Aisha). Styled Ratu of Bulungan, with the style of Her Highness from 12th November 1926 to 27th March 1930. m. (first) at Istana Dar ul-Aman, Tanjung Pura, 12th November 1926 (zifaf), H.H. Paduka Sri Sultan Maulana Ahmad Sulaiman ud-din, Sultan of Bulungan (b. early 1905; d. 27th March 1930), second son of H.H. Paduka Sri Sultan Maulana Muhammad Kasim ud-din ibni al-Marhum Sultan Muhammad Azim ud-din, Sultan of Bulungan, by his third wife, Rakhmah, by whom she had issue an only son - see Indonesia (Bulungan). m. (second) January 1931, Tuanku Rajih Anuar ibni al-Marhum Sultan Sulaiman Sharif ul-'Alam Shah, Tengku Putra Mahkota, Head of the Royal House of Serdang (b. at Kota Bahru, 23rd March 1900; d. at Medan, 28th December 1960), eldest son of H.H. Paduka Sri Sultan Tuanku Sulaiman Sharif ul-'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan Bashar un-din, Sultan and Yang di-Pertuan Besar of Serdang, by his second wife, Inche' Kurnia Purba, by whom she had further issue, four sons and three daughters - see Indonesia (Serdang).
  • 2) Tengku Shah ul-Bariah binti al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz (s/o Tengku Fatimah Sham). m. (first) Tengku Hamid. m. (second) Rusli Siregar. She had issue, two sons and one daughter by her first husband, and one son and one daughter by her second:
    • a) Tengku Aiz us-Thafa bin Tengku Hamid.
    • b) Tengku Amir ul-Aswad bin Tengku Hamid.
    • c) Umar Siregar.
    • a) Tengku Merri binti Tengku Hamid.
    • b) Rita Siregar.
  • 3) Tengku Nurillah binti al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz, Tengku Puan Tengah (d/o Aja Loyah). m. 3rd August 1933, as his second wife, Tengku Harun al-Rashid ibni al-Marhum Tuanku Sultan Makmun al-Rashid Perkasa 'Alam Shah, Tengku Perdana Mentri (b. at Medan, at Medan, 8th February 1891), second son of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Makmun al-Rashid Perkasa 'Alam Shah, Sultan of Deli. She had issue, one son and one daughter - see Indonesia (Deli).
  • 4) Tengku Putri Zainab binti al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz (d/o Tengku Putri). m. 21st July 1933, Tengku Mansur Shah ibni al-Marhum Sultan Muhammad Shah, Tengku Besar (disappeared with his father during the 'Social Revolution' in Sumatra, 4th March 1946), eldest son of H.H. Sri Paduka Tuanku Al-Haji Muhammad Shah ibni al-Marhum Tuanku Al-Haji 'Abdu'llah Ni'matu'llah Shah, Raja and Yang di-Pertuan of Kualuh and Leidong - see Indonesia (Kualuh).
  • 5) Tengku Maimuna binti al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz (d/o Tengku Ainum). m. Tengku Harison, of Bedagai, Deli, by whom she had issue, four sons and one daughter:
    • a) Tengku Nazman bin Tengku Harison.
    • b) Tengku Usman bin Tengku Harison.
    • c) Tengku Muhammad Rizan bin Tengku Harison.
    • a) Tengku Zulfa binti Tengku Harison. m. Tengku Mustafa Kamal Pasha ibni al-Marhum Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah (b. at Istana Dar ul-Aman, Tanjung Pura, 27th August 1935), son of her maternal uncle, H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l 'Aziz, Sultan of Langkat. She has issue, one son - see below.
  • 6) Tengku Aizah binti al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz (d/o Tengku Putri Zahara). m. Raja Izzat. She has issue, three sons and one daughter:
    • a) Raja Shukri Amrun bin Raja Izzet.
    • b) Raja Izlin bin Raja Izzet.
    • c) Raja Zulkarnain bin Raja Izzet.
    • a) Raja Latifa Afifi binti Raja Izzet.
  • 7) Tengku Mariam binti al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz (d/o Tengku Putri Zahara). m. Tengku Harris bin Tengku Hafas (b. ca. 1922), third son of Tengku Hafas bin Tengku Ismail al-Haj, Tengku Pangeran, sometime Wakil of Bedagai and Pangeran of Langkat Hilir, by his wife, Tengku Uan Mahanun, daughter of Tuanku Sutan Bidar Alam Shah III, Raja of Bila. She has issue, two sons and three daughters - see Indonesia (Deli).
  • 8) Tengku Salama binti al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz (d/o Inche' Pediwi). m. Tengku Haji Idris bin Tengku Kelana, Tengki Sri Utama di-Raja, son of Tengku Kelana ibni al-Marhum Sultan Haji Musa al-Khalid ul-Mu'azzam Shah. She had issue, four sons and three daughters - see above.
  • 9) Tengku Sauda binti al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz (d/o Inche' Sanggit). m. Tengku Amrun. She has issue, three sons:
    • a) Tengku Khairad bin Tengku Amrun.
    • b) Tengku Kadir bin Tengku Amrun.
    • c) Tengku Ivan bin Tengku Amrun.
  • 10) Tengku Rahima binti al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz, Tengku Ampuan. b. posthumously, at Kota Dalam, 4th August 1927 (d/o Tengku Putri Zahara). m. 10th March 1956, as his third wife Captain H.R.H. Sultan Salah ud-din 'Abdu'l Aziz Shah Alhaj ibni al-Marhum Sultan Hisam ud-din Alam Shah Alhaj, Sultan of Selangor Dar ul-Ihsan (b. at Istana Bandar Temasha, Kuala Langat, 8th March 1926; d. at the Gleneagles Hospital, Kuala Lumpur, 21st November 2001), son of Group Group Captain H.R.H. Sultan Hisam ud-din Alam Shah al-Haj ibni al-Marhum Sultan 'Ala ud-din Sulaiman Shah, Sultan of Selangor Dar ul-Ihsan, KCMG, by his first wife, H.R.H. Raja Hajah Jema'a binti Raja Ahmad, Tengku Ampuan, daughter of Raja Ahmad, of Perak. She d. 27th June 1992, having had issue, two daughters - see Malaysia (Selangor).

HISTORY OF LANGKAT 1

The Sultanate of Langkat is one of the older states on the north-eastern seaboard of Sumatra. Although dating back to the pre-Islamic age, recorded history is available only from the seventeenth century.

The Royal house served as representatives or local rulers on behalf of the Sultan of Aceh until the early years of the nineteenth century. The arrival of the Europeans during the teens and twenties, and the weakening of Acehnese power in their wake, prompting the Rajas of Langkat to seek to establish their own independence. They threw in their lot with, and accepted the protection of the Sultans of Siak, then the dominant power on the east coast of Sumatra. However, the Acehnese returned during the 1850's and attempted to regain control. The granting of grandiose titles to the local rulers and an administrative presence stemmed the tide for a period. Eventually, Acehnese power was no match for the Europeans. Langkat concluded a separate contract with the Dutch in 1869. They went one better than the Acehnese and recognised the Raja as Sultan in 1887.

The potential for developing the plantation economy was a great temptation to the Dutch and the prospect of income from leases, too great for the Raja. Musa al-Khalidy, assumed the title of Sultan and a reign name to signifying his complete equality with his former overlord. In common with Deli, Asahan and Siak, the sultanate prospered beyond expectation. Rubber demand boomed during the Great War and the ever-growing demand for oil followed during the 1920's and 30's. By the early 1930's the Sultan of Langkat was the wealthiest ruler in Sumatra, thanks to oil royalties from the Pengkalan Brandan fields. All this only served to enhance the envy of the Japanese.

The Second World War soon displaced prosperity as Japanese oppression displaced Dutch colonialism. The end of war, however, did not bring an easy peace. The Communist inspired "social revolution" of 1946 brought hideous bloodshed and loss of life. Amongst the casualties, Tengku Amir Hamzah, scion of the Langkat Royal House and the foremost Malay poet and writer of his generation. The evils of the times did not end quickly as the Dutch attempted to regain control while the Javanese republicans attempted to oust them. Large numbers of the aristocracy perished in these conflicts, chaos reigned supreme and the sultanates all but ceased to function. The reigning Sultan, Mahmud 'Abdu'l Jalil, died in 1948, one year before the conclusion of hostilities and the recognition of independence by the Dutch. His son was not proclaimed or installed as Sultan.

In common with the Royal House of Deli, the Langkat family was independently wealthy due to the land lease system and the successful oil economy. It opened them to greater intercourse with the wider world, to travel broadly and to value European education. It also enabled them conclude marriage alliances across the Straits of Malacca.

Although the central government in Java was very slow in officially recognising or promoting the restoration of the Sumatran princes, a recent change of policy has been implemented without much publicity. The Langkat dynasty has been one of the few to benefit. They accepted a Head of the Royal House, in the person of Tengku Dr Herman Shah Kamil in 1999. Since his death in 2001, his nephew has been officially installed as Sultan Iskandar Hilali 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah.

STYLES & TITLES:
The ruling prince: Sri Paduka Tuanku Sultan (reign name) ibnu al-Marhum (father's title and reign name), Sultan of Langkat, with the style of His Highness.
The principal Royal consort of the ruling prince: Tengku Permaisuri, with the style of Her Highness.
The Heir Apparent: Raja Muda.
The sons, grandsons and other male descendants in the male line, up to the fifth generation: Tengku (personal name).
The daughters, granddaughters and other female descendants in the male line, up to the fifth generation: Tengku (personal name).

RULES OF SUCCESSION:
Male primogeniture, the sons of Royal wives taking precedence over those of commoners.

ORDERS & DECORATIONS:
None known.

GLOSSARY:
See under Malaysia main page.

SOURCES:
John Anderson, Mission to the East Coast of Sumatra in 1823. Oxford in Asia Historical Reprints. Oxford University Press, Kuala Lumpur, 1971.
M. Hamerster, "Bijdrage tot de kennis van de afdeeling Asahan", Uitgave van het Oostkust van Sumatra-Instituut, Mededeeling No. 13, Amsterdam, 1926.
Dada Meuraxa, Sejarah Kebudayaan Suku-Suku di Sumatera Utara. Sasterawan, Medan, 1973.
Oostkust van Sumatra-Instituut : kroniek, 1925 to 1940, 1941-1946, & 1948 en 1949. Oostkust van Sumatra Instituut, Amsterdam, 1926-1950.

SPECIAL ACKNOWLEDGEMENT:
H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Iskandar Hilali 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah al-Haj, the Sultan of Langkat.
Ir. Haji Abdul Hamid Arsyad, Datuk Amar di-Raja, Langkat

The late Jeffrey Finestone, Thailand.
Theo Dirk Brouwer, Canada.
Stephen Bunford, UK.
Tengku Zohoriah Haneth, Langkat.
Tengku Dr. Haji Nathan Mahmud, Jakarta.
Vena Siregar.

D. Tick, Pusat Dokumentasi Kerajaan-Kerajaan di Indonesia "Pusaka".
pusaka.tick@tiscali.nl

ca. 1670 - 1670 Panglima Deva Shahdan, ruler of Langkat. A military commander from Deli, who conquered and established his ruler over Langkat, ca. 1670. He had issue:
  • 1) Raja Kahar ibni al-Marhum Panglima Deva Shahdan, Raja of Langkat - see below.
  • 1) Puteri Hijau binti al-Marhum Panglima Deva Shahdan. Taken as a prisoner to Aceh.

ca. 1670 - 17xx Raja Kahar ibni al-Marhum Panglima Deva Shahdan, Raja of Langkat. He had issue:
  • 1) Sutan Bendahara Raja Badi uz-Zaman ibni al-Marhum Raja Kahar, Raja of Langkat - see below.

17xx - 17xx Sutan Bendahara Raja Badi uz-Zaman ibni al-Marhum Raja Kahar, Raja of Langkat. He had issue four sons:
  • 1) Raja Hitam ibni al-Marhum Sutan Bendahara Raja Badi uz-Zaman [Kejeruan Tua], Raja of Langkat - see below.
  • 2) Raja Wan Jabar. Wakil of Selesai. He had issue:
  • a) Sutan Muhammad Shaikh. Wakil of Satabat.
  • 3) Raja Shahdan. Wakil of Pungai.
  • 4) Raja Indra Bongsu. Wakil of Kota Dalam. m. several wives, including a daughter of the Orang-Kaya Asim, of Pangalan Bulu. He had issue, five sons and several daughters, including:
    • a) Tengku Wan Johor (half-brother of Sultan Ahmad). m. (first) (div.) Raja Wan Perak, daughter of H.H. Sultan 'Amal ud-din I Panglima Mangedar 'Alam Shah ibni al-Marhum Tengku Panglima Gandar Wahid, Sultan of Deli.
    • b) Raja Ahmad ibni al-Marhum Raja Indra Bongsu, Raja of Langkat (s/o the Pangalan Bulu lady) - see below.
    • c) Tengku Wan Supan (half-brother of Sultan Ahmad).
    • d) Tengku Wan Shah (half-brother of Sultan Ahmad).
    • e) Tengku Wan Desan (half-brother of Sultan Ahmad).
    • a) Raja Wan Chandradevi. m. (div.) Raja Nobat Shah ibni al-Marhum Raja Hitam, Raja Kejuruan Jipura Bilan Jentera Malai , son of Raja Hitam ibni al-Marhum Sutan Bendahara Raja Badi uz-Zaman [Kejeruan Tua], Raja of Langkat - see below.
  • 5) Tengku Marim.
  • 6) Tengku Pandei, of Kejuruan Tindal.

17xx - 1818 Raja Hitam ibni al-Marhum Sutan Bendahara Raja Badi uz-Zaman [Kejeruan Tua], Raja of Langkat. Deposed after the conquest of Langkat by the Sultan of Siak, 1818. Fled to Deli, where he raised a force to regain his throne. He was k. in an explosion when trying to regain his domains, 1822, having had issue, three sons and one daughter:
  • 1) Raja Nobat Shah ibni al-Marhum Raja Hitam, Raja Bendahara. Contested the succession with his cousin Sultan Ahmad. Installed as Raja Bendahara Kejuruan Jipura Bilan Jentera Malai under the protection of the Sultan of Siak Sri Indrapura, but failed to establish a viable state. m. (first) (div.) Raja Wan Chandradevi, daughter of his uncle, Raja Indra Bongsu, Wakil of Kota Dalam. m. (second) Tengku Fatima, of Siak. He had issue:
    • a) Tengku Maharaja (s/o Tengku Fatima).
  • 2) Raja Badr ud-din Shah ibni al-Marhum Raja Hitam.
  • 3) Raja Deo Sedan ibni al-Marhum Raja Hitam.
  • 1) A daughter. m. before 1823, H.H. Sultan 'Amal ud-din I Panglima Mangedar 'Alam Shah ibni al-Marhum Tengku Panglima Gandar Wahid, Sultan of Deli (d. 18th March 1824), second son of Tengku Panglima Gandar Wahid [Kanduhid], Amir of Deli - see Indonesia (Deli).

1818 - 1840 Raja Ahmad ibni al-Marhum Raja Indra Bongsu, Raja of Langkat. b. ca. 1807, second son of Raja Indra Bongsu, Wakil of Kota Dalam, by a daughter of the Orang-Kaya Asim, of Pangalan Bulu, educ. privately. Succeeded on the deposition of his uncle, 1818. Installed as Raja Kejuruan Muda Wallah Jipura Bilad Langkat under the protection of the Sultan of Siak Sri Indrapura. Reigned under the regency of his maternal uncle, the Orang-Kaya Shahbandar Sampei, until he came of age and assumed full ruling powers. m. Tengku Kanah, of Siak. He d. 1840, having had issue, two sons and three daughters:
  • 1) Tengku Sulung Agus ibni al-Marhum Raja Ahmad Shah.
  • 2) Tengku Ngah Musa, Pangeran Mangku Negara Raja Muda, who became H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mahadiah Mu'azzam Shah ibni al-Marhum Raja Ahmad Shah, Sultan of Langkat (s/o Tengku Kanah) - see below.
  • 1) Tengku Umi Salamah binti al-Marhum Raja Ahmad Shah.
  • 2) Tengku Ratna Wilis binti al-Marhum Raja Ahmad Shah.
  • 3) Tengku Lela Utama binti al-Marhum Raja Ahmad Shah.

Profil Kabupaten Langkat

Description:
Bupati Syamsul Arifin (Red: sekarang Gubernur Sumatera Utara)

ANDA pernah mencicipi rambutan binjai yang cukup terkenal itu? Rasanya yang manis membuat tangan ini terus-menerus penasaran untuk mengupas kulit yang membungkus daging buah yang berbentuk bulat telur itu. Cita rasa rambutan binjai yang manis dengan kulit biji yang mengelupas hingga menempel daging buah saat dimakan memang sangat terkenal di Provinsi Sumatera Utara.



Rambutan ini berasal dari daerah Binjai Sumatera Utara. Rasanya manis segar sehingga tak salah jika rambutan ini dilepas sebagai varietas rambutan unggul. Buahnya tampak menarik dengan warna merah mencolok dan berbentuk bulat agak lonjong. Kulit buahnya tebal dan agak keras. Rambut buahnya panjang, jarang, kasar, dan berwarna merah dengan ujung hijau. Daging buahnya berwarna putih, kenyal, dan ngelotok dengan kulit biji melekat. Daging buahnya agak renyah karena kadar airnya sedikit. Bijinya bulat dan berukuran sedang. Produktivitasnya termasuk rendah.
Rambutan ini memiliki manfaat antara lain Kayu pohon Rambutan cukup keras dan kering, tetapi mudah pecah sehingga kurang baik untuk bahan bangunan. Namun, kayu Rambutan bagus sekali untuk kayu bakar. Akar tanaman ini untuk obat demam, kulit kayunya untuk obat radang mulut, dan daunnya untuk obat sakit kepala sebagai tapal (popok). Daging buah yang telah matang dapat dikalengkan.



Jangan salah, belum tentu buah yang umumnya setahun dua kali panen itu benar-benar berasal dari Kota Binjai. Bisa saja ia asli Kabupaten Langkat karena daerah yang berbatasan langsung dengan Kota Binjai ini juga merupakan salah satu daerah penghasil. Kebun-kebun rambutan juga tampak mendominasi pemandangan ketika memasuki wilayah ini dari Kota Medan.

Pada tahun 2002 saja produksi buah rambutan yang sentra panen terluasnya di lima kecamatan: Padang Tualang, Batang Serangan, Stabat, Sei Bingei, dan Sei Lepan, sebanyak 8.040 ton. Dari 20 kecamatan di Langkat, hanya tiga kecamatan yang pada tahun itu tidak memproduksi rambutan. Suplai rambutan dari Langkat mengisi pasar buah di daerah-daerah lain di Sumut khususnya dan Pulau Sumatera umumnya.

Namun, rambutan langkat memang kurang terdengar gaungnya. Kabupaten ini lebih dikenal sebagai daerah perkebunan kelapa sawit, tembakau, tebu, cokelat (kakao), dan karet. Kecuali tembakau yang seluruhnya dimiliki perkebunan negara, semua hasil perkebunan selain di bawah kendali perusahaan negara, swasta nasional dan asing, juga dimiliki rakyat.

Produk perkebunan kemudian diolah di pabrik-pabrik pengolahan di Langkat. Ada pula yang didistribusikan ke daerah lain dan sebagian juga diekspor. Tembakau misalnya, di Sumut dikenal dengan Tembakau Deli, diminati oleh Jerman. Ekspor dilakukan melalui Pelabuhan Belawan di Kota Medan.

Produk perkebunan lain seperti kelapa sawit diolah di pabrik-pabrik pengolahan dengan hasil akhir berupa Crude Palm Oil (CPO).

Langkat juga memiliki pabrik pengolahan tebu dengan produk akhir gula pasir yang diproduksi oleh Pabrik Gula Kwala Madu milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX. Keterbatasan pabrik pengolahan memang membuat komoditas perkebunan dan pertanian Langkat kurang memiliki nilai tambah.

Selain mengandalkan pertanian dan perkebunan, Langkat juga memiliki potensi perikanan. Secara geografis, hal ini memungkinkan karena sebagian wilayahnya berada di pesisir pantai. Perikanan laut merupakan salah satu sumber pendapatan bagi penduduk yang tinggal di sekitar lokasi tersebut.

Selain itu, tambak udang merupakan lahan yang cukup menjanjikan sebagai sumber penghasilan. Lokasi tambak udang berada di Kecamatan Secanggang, Tanjung Pura, Gebang, Babalan, Sei Lepan, Pangkalan Susu, dan Besitang. Industri pengolahan produk perikanan yang ada baru berupa industri kecil udang beku.

Kian hari, profesi nelayan di Langkat, seperti umumnya yang terjadi di daerah lain di negara ini, mengalami kesulitan. Kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) sungguh memberatkan para nelayan.

Biaya melaut menjadi mahal, sementara pendapatan tak seberapa. Pada tahun 1998 produksi ikan sebanyak 16.802 ton, tahun berikutnya naik menjadi 17.395 ton. Data terakhir tahun 2001, produksi ikan laut naik sekitar 4 persen dari tahun sebelumnya yang mencatat angka 17.818 ton.

Selain perkebunan-perkebunan yang mendominasi pemandangan dan di beberapa wilayah pantai dengan tambak-tambak udangnya, masih ada potensi unggulan yang dimiliki Kabupaten Lahat.

Mungkin belum banyak yang tahu jika sumur minyak dan gas bumi (migas) pertama di republik ini pertama kali ditemukan di Langkat sekitar tahun 1885. Kilang gas alam yang beroperasi sejak tahun 1965 di Pangkalan Brandan, Kecamatan Babalan, memproduksi gas elpiji (bahan bakar memasak pada kompor gas) sebanyak 280 ton per hari, kondensat 105 ton per hari, dan beberapa jenis gas dan minyak lainnya. Hasil dari sumur migas ini cukup memberi tambahan kas penerimaan anggaran pendapatan dan belanja daerah Kabupaten Langkat.

Untuk tahun anggaran 2003, ditetapkan target penerimaan bagi hasil dari migas Rp 16 miliar, naik hampir 80 persen dari target tahun sebelumnya sekitar Rp 9 miliar. Untuk pembangunan ekonomi rakyat, pengelola migas Langkat yaitu PT Pertamina memberikan bantuan berupa modal usaha kepada pengusaha lokal atau pembinaan keterampilan untuk industri kecil.

Dari beberapa potensi di atas, perkebunan tetaplah menjadi kegiatan ekonomi utama di kabupaten. Pada tahun 2001, perkebunan memberi kontribusi Rp 745,6 miliar, dari total kegiatan ekonomi yang Rp 3,8 triliun, di luar migas. Tempat kedua, pertanian tanaman pangan sebesar Rp 646,2 miliar. Setelah itu perikanan senilai Rp 482,8 miliar. Pada tahun 2001 ini terjadi kenaikan pertumbuhan ekonomi sebesar 3,25 persen, sementara tahun 2000 hanya 1,54 persen.

Dominasi tenaga kerja di Langkat ada di sektor pertanian dan perkebunan. Hingga tahun 2009 sekitar 35 persen penduduk bekerja di lapangan usaha pertanian, 12 persen di perkebunan, dan empat persen di perikanan. Mayoritas tenaga kerja lulusan sekolah menengah umum (SMU) dan sekolah menengah ekonomi atas (SMEA).

Untuk kas daerah, masih ada sektor pariwisata yang bisa diandalkan. Selama ini wisata Langkat yang paling dikenal adalah Pusat Rehabilitasi Orang Utan Bukit Lawang di Kecamatan Bahorok, yang berjaraknya sekitar 60 kilometer dari pusat kota.

Luas 6.262 km2, 20 kecamatan, 215 desa, 15 kelurahan (230), penduduk 892.533 jiwa,
2.8.159 KK.

Langkat Dalam Buku Aceh Sepanjang Abad

Tanggal 17 Januari 2009 merupakan Hari Jadi Ke 259 Kabupaten Langkat sejak ditetapkan hari jadinya yang pertama 17 Januari 1750. Penetapan tanggal tersebut dilakukan melalui seminar yang berlangsung di Stabat, 20 - 24 Juli 1994. Seminar terselenggara hasil kerja sama Pemkab Langkat dengan tokoh-tokoh masyarakat dan tim jurusan sejarah Fakultas Sastra USU melalui penelitian kepustakaan dan study lapangan.

Beberapa buku sejarah yang dirujuk di antaranya Mission To The East Coast Of Sumatra in 1823, John Anderson, Sumatera Utara di bawah kekuasaan pemerintah Hindia Belanda, jilid II, Fakultas Sastra USU, Koeli Kontrak Tempo Doeloe dengan Derita dan Kemarahannya, Waspada, 1977 dan Sari Sejarah Serdang, Tengku Lukman Sinar serta tulisan pendiri Harian Waspada H Mohammad Said dalam bukunya “Aceh Sepanjang Abad”. Setelah ditetapkan sebagai Peraturan Daerah dengan persetujuan Gubsu, lahirlah Perda No. 11 Tahun 1995 dan diundangkan dalam lembaran daerah, 20 Mei 1996. Untuk pertama kalinya Hari Jadi ke 247 Kabupaten Langkat diperingati dalam sidang paripurna DPRD Langkat di Stabat, 17 Januari 1997. Langkat rupa-rupanya sudah tersohor sejak jauh hari sebelum republik ini merdeka.

Bahkan dalam buku Aceh Sepanjang Abad tersebut, tercantum beberapa nama keturunan pendiri Langkat yang gigih berjuang menentang penjajahan Belanda. Tambo Langkat menyebutkan nama dinasti Langkat yang terjauh diketahui ialah Dewa Syahdan, digantikan putranya Dewa Sakti (1580-1612). Dewa Sakti belakangan digantikan Sultan Abdullah yang dikenal dengan sebutan Marhum Guri, putranya Raja Kahar merupakan pendiri Langkat. Raja Kahar memerintah di pertengahan abad ke 18 berkedudukan di Kota Dalam sebagai pusat pemerintahan, yaitu sebuah lokasi di antara Stabat dengan Kampung Inai. Raja Kahar digantikan anaknya Badiuzzaman yang memiliki empat putra masing-masing Kejuruan Hitam, Raja Wan, Syahdan dan Indra Bungsu.

Ketika Badiuzzaman meninggal, digantikan putra sulungnya Kejuruan Hitam berkedudukan di Jentra Malai yang berlokasi tidak jauh dari Kota Dalam. (Ancar-ancar lokasinya sekarang di Jalan Ampera paling ujung Desa Stabat Lama Barat Kecamatan Wampu-Red). Sementara Raja Wan memerintah di Selesai, Syahdan di Pungai dan Indra Bungsu tetap berada di Kota Dalam. Sistem pemerintahan yang dijalankan para putra Badiuzzaman bersifat otonom. Mereka memerintah daerahnya masing-masing, namun Kejuruan Hitam atau Tuah Hitam selaku saudara tertua adalah pusat pemerintahan yang diakui oleh saudara-saudaranya sebagai pimpinan tertinggi. Pada akhir abad ke 18 daerah-daerah di Langkat mulai berkembang dan makmur dengan potensi sumber daya alamnya. Belakangan, Siak datang menyerang Langkat dan menaklukkan negeri ini. (Aceh Sepanjang Abad-Hal.615).

Untuk jaminan kesetiaan Langkat, dua putra Langkat Nubat Syah anak Kejuruan Hitam dan Raja Ahmad anak Indra Bungsu di bawa ke Siak, Riau. Belakangan kedua putra Langat itu dikawinkan dengan putri Siak, Raja Ahmad dikawinkan dengan putri Siak bernama Tengku Kanah. Dari perkawinan ini lahir seorang putra diberi nama Tengku Musa, atau disebut dengan Tengku Ngah. Dalam tahun 1815, Nubat Syah dan Raja Ahmad kembali ke Langkat dan oleh Siak diberi kesempatan untuk kembali memerintah. Nubat Syah bergelar Raja Bendahara Kejuruan Jepura Bilad Jentera Malai dan Raja Ahmad bergelar Kejuruan Muda Wallah Jepura Bilad Langkat. Berdasaran ketentuan Sultan Siak, yang mewarisi pemerintahan kerajaan di Langkat adalah anak Nubat Syah yang lahir di Siak hasil perkawinannya dengan salah seorang putri Kerajaan Siak.

Ketika John Anderson, sekretaris Gubernur Inggeris di Penang melawat ke Sumatera Timur, 1823, didapatinya Langkat dalam suasana perang. Antara Raja Bendahara dan Raja Ahmad terjadi perebutan kekuasaan berlanjut terbunuhnya Raja Bendahara. Beberapa waktu kemudian terbunuh pula Raja Ahmad. Akibat peristiwa tersebut, Tengku Musa alias Tengku Ngah putra dari Raja Ahmad yang dibesarkan dan sudah dewasa di Siak datang ke Langkat. Semula menurut ketentuan Sultan Siak, anak Nubat Syah yang lahir di Siak (Tengku Maharaja) akan mewarisi Langkat, tetapi karena dia sudah meninggal, dapatlah Tengku Ngah menduduki kerajaan dengan pengakuan Sultan Siak.

Tetapi sesudah Nubat Syah terbunuh, masih ada saudaranya yang lain yaitu Raja Wan yang memerintah di Selesai. Sutan Muhammad Syeh atau Matsyeh yang merupakan Putra Raja Wan memerintah di Stabat dan seorang saudara lainnya memerintah di Bingai. Setelah Raja Wan meninggal, Matsyehlah yang menggantikannya dan ingin menguasai Langkat seutuhnya. Demikianlah, dalam perkembangan selanjutnya, Matsyeh telah berjuang mempertahankan Langkat agar jangan sampai jatuh kepada Belanda. Perjuangan Matsyeh yang juga sebagai Raja Stabat tersebut dibantu Tuanku Hasyim yang mewakili Sultan Aceh berkedudukan di Pulau Kampai.

Belakangan Matsyeh berhasil ditaklukkan Belanda, 22 Oktober 1865 dan dihukum rantai di penjara Cilacap Pulau Jawa. Pada beberapa bagian lainnya, nama Sutan Matsyeh dan Tuanku Hasyim banyak disebut tentang sepak terjang keduanya menentang penjajahan kolonial Belanda. Berbagai kalangan masyarakat berharap agar lintasan sejarah yang telah ada, terkait dengan penetapan Hari Jadi Kabupaten Langkat perlu digali lagi untuk dikembang dan dilestarikan bagi generasi penerus. Sehingga dapat memberikan inspirasi dan motivasi bagi masyarakat Langkat untuk menjadikan daerah ini ke arah lebih baik dan lebih berkembang di masa-masa mendatang. Dirgahayu Kabupaten Langkat.

Daftar Anggota DPRD Langkat
1. -
Ketua DPRD
-
2. Drs. H. Baharuddin Siregar
Wakil Ketua DPRD
PAN

3. H. Sa ad Zaghlul
Wakil Ketua DPRD
PPP

4. Drs. H. Amiruddin Kahar
Wakil Ketua DPRD
P. Golkar

5. Drs. H. Yunus Saragih
Ketua Fraksi PDI-P
PDI-P

6. M. Tanden Bangun
Wakil Ketua Fraksi PDI-P
PDI-P

7. Syafril, SH
Sekretaris Fraksi PDI-P
PDI-P

8. Budiono
Wakil Sekretaris Fraksi PDI-P
PDI-P

9. Heddy Minar Br. Sitanggang
Anggota
PDI-P

10. Jaman Sembiring
Anggota
PDI-P

11. Ngena Kenca Sitepu
Anggota
PDI-P

12. Dalan Muli Sembiring
Anggota
PDI-P

13. Jumiswan Rangkuti
Anggota
PDI-P

14. Muliono
Anggota
PDI-P

15. Syahmuddin Siregar
Anggota
PDI-P

16. Suparno GT
Anggota
PDI-P

17. Josen Ginting
Anggota
PDI-P

18. Rahman Syahrita
Anggota
PDI-P


19. Sutopo
Anggota
PDI-P

20. Chairul Saleh
Anggota
PDI-P

21. Aslin Nasution
Anggota
PDI-P

22. H. Syafruddin Basyir
Ketua Fraksi Partai Golkar
P. GOLKAR

23. H. Surianto
Wakil Ketua Fraksi Partai Golkar
P. GOLKAR

24. Zulkifli IJ. Lubis
Sekretaris Fraksi Partai Golkar
P. GOLKAR

25. Muin Irian Nasution
Anggota
P. GOLKAR

26. Ngela Bangun
Anggota
P. GOLKAR

27. Mula Sembiring, BA
Anggota
P. GOLKAR

28. Ahmad Gurdi
Anggota
P. GOLKAR

29. Yan Syahrin
Anggota
P. GOLKAR

30. H. Ahmad Ghazali Syam
Ketua Fraksi PPP
PPP

31. Nurul Azhar Lubis
Wakil Ketua Fraksi PPP
PPP

32. Budjamil Daud
Sekretaris Fraksi PPP
PPP

33. M. Syum
Anggota
PPP

34. Drs. Abdullah A. Rahim
Anggota
PBB

35. H. Effendi Lubis
Anggota
P. MASYUMI

36. H. M. Lisanuddin Sabima, BA
Ketua Fraksi Reformasi
PKB

37. Ir. Hadi Sudibyo
Wakil Ketua Fraksi Reformasi
PKP

38. H. M. Syukri Munir, SH
Sekretaris Fraksi Reformasi
PAN

39. T. Mahdi
Anggota
PAN

40. Jhonson E. Simanjuntak, SH
Anggota
PDKB

41. H. Moch. Syahrul
Ketua Fraksi TNI/POLRI
TNI/POLRI

42. Elan Warlan
Wakil Ketua Fraksi TNI/POLRI
TNI/POLRI

43. H. M. Anwan
Sekretaris Fraksi TNI/POLRI
TNI/POLRI

44. Margaretta F. Sugiyarti
Anggota
TNI/POLRI

45. Nelson Firman Ginting, ST
Anggota
TNI/POLRI

46. Syaoran Z
Anggota
PDIP

Daftar Kecamatan

1. Bahorok
2. Kuala
3. Selesai
4. Sei Wampu
5. Secanggang
6. Tanjung Pura
7. Batang Serangan
8. Gebang
9. Brandan Barat
10. Besitang
11. Salapian
12. Sei Bingai
13. Binjai
14. Stabat
15. Hinai
16. Padang Tualang
17. Sawit Seberang
18. Babalan
19. Sei Lepan
20. Pangkalan Susu


Ingredients:
www.langkat.go.id

SUMBER:
http://khairulid.multiply.com/